Artist Mate
Art and Culture In Indonesa ~ Shop, Event, Vacancies, Archive

LAGU CINTA PARA PENDOSA

( S e k u m p u l a n P u i s i )

Zaim Rofiqi

ENDORSEMENT

Bila anda ingin mengalami alam pikiran modernis, puisi-puisi dalam buku ini salah satu representasinya yang terbaik. Kecerdasan, konsentrasi, kedalaman, penggalian makna, dan kesatuan imaji terasa sangat kuat di dalamnya. Sudah sulit menemukan puisi yang demikian dalam kehiruk-pikukan dunia pasca-modernis yang menjemukan seperti sekarang ini.

—Faruk HT, Ilmuwan Sastra

Puitika Zaim Rofiqi dibangun di atas khasanah citraan ruang, yang terus mengikhtiarkan keluasan dan keleluasaan, sembari pada saat sama menetapkan batas-batasnya sendiri. Ada tegangan antara kehendak mengikuti dekorum dan gairah bersajak dengan bebas, tapi sajak-sajak terbaiknya adalah yang berhasil mengawinkan dua kecenderungan yang semestinya tak saling berjodoh ini. Jika Rofiqi setia kepada kerja yang menantang ini, niscaya kita tidak perlu terlalu cemas terhadap masa depan puisi Indonesia.

—Manneke Budiman, Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

Racikan kata-kata yang tersaji dalam buku puisi Zaim Rofiqi ini membuat saya cemburu sekaligus kagum padanya. Dalam puisi-puisinya, Zaim begitu cerdas memilih kata, membangun suasana, serta menafsirkan pengalaman keseharian dan bacaannya yang kaya. Puisi-puisinya adalah usaha pemberian makna pada banyak hal di dunia ini yang sepertinya sia-sia.

—Nong Darol Mahmada, Aktivis Perempuan

Dengan senjata puitik yang wajar dan bersahaja, Zaim Rofiqi melawan vonis waktu yang merenggut segalanya. Puisi-puisinya adalah memoar perjalanan kehilangan yang berkeras menyelamatkan jejak, gema, dan bayang-bayang.
—Arif Bagus Prasetyo, Penyair

____________________________

CATATAN PEMBACA

TENTANG TANPA BATAS: SAJAK-SAJAK ZAIM ROFIQI

Oleh Goenawan Mohamad

Puisi selalu bergerak di pinggir tata simbolik. Ia berdiam dalam bahasa, ia mengikuti bahasa, tetapi ia tak sepenuhnya di sana dan tak betah di sana. Mungkin itu sebabnya puisi adalah antitesis bagi kediaman.

Kata “kediaman” bisa menyarankan arti yang sama dengan tak adanya gerak, tapi juga arti yang sepadan dengan “rumah”. Sajak-sajak Zaim menyatakan bagaimana ia selalu cenderung melepaskan diri dari kediaman itu, meskipun ketertiban yang dikehendaki oleh bahasa diikutinya: puisi-puisi ini tak meletup dengan keganjilan surrealis; mereka tak menyerah kepada apa yang bisa disebut “prakarsa permainan beda”, yang tak kunjung selesai dalam kata-kata. Tapi isi sajak-sajak ini adalah ketidak-betahan.

Dalam Batas, ia menyebut sebuah masa lalu yang dibangun oleh “ibu, bapak, masa kanak, rumah, pelukan, sawah, belaian tangan halaman, tanah lapang, pekarangan, pohon ketapang, kelereng, layang-layang, gambreng, ular-ularan, sekolah, guru, sejarah, ilmu nahwu, tatap mata, kisah cinta, remaja, tamasya…”. Tapi semua itu tak bisa bertahan. Makin lama, ketika “detik demi detik” berjalan, terbentuklah batas, dan aku terpatok. Sang penyair tahu, “ada yang harus lepas”, hingga “menjauh meluruh mengabur melebur membuyar memudar menghilang”. Makin lama, terbentuk keterasingan, bahkan represi:

Selengkapnya klik di sini

==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id

Citywalk invited you to “FINAL JAKUSTIC 09″ on 27 June at 14:00.

Event: FINAL JAKUSTIC 09
“Two Thousand and Three (Binus) vs Silver Stream (Atmajaya Jakarta)”
What: Concert
Host: CITYWALK SUDIRMAN
Start Time: 27 June at 14:00
End Time: 27 June at 18:00
Where: Citywalk Sudirman

Guest Star :

MAXIMUS

PRIA

KIRANA

Melalui tari, tubuh melakukan aksi yang merepresentasikan aktualisasi diri.

Melalui tari, tubuh menghargai tubuhnya sendiri dan menghargai tubuh lain.

Melalui tari, tubuh menciptakan harmonisasi tubuh individual dan komunal

Melalui tari, tubuh mempresentasikan pikiran dan perasaan yang hidup

Melalui tari, tubuh diapresiasi dan diwacanakan

D A NCE: BODY 2 BODY

pertunjukan tari yang mempresentasikan optimalisasi tubuh dan gerak tubuh dalam rangkaian gerakan tubuh yang menari

D A NCE: BODY 2 BODY

pertunjukan tari yang mempertemukan tubuh dengan tubuh lain dalam rangkaian aksi dialogis antar tubuh

D A NCE: BODY 2 BODY

pertunjukan tari yang menghadirkan presentasi skill dan teknik gerak tubuh, sebagai perwujudan eksplorasi pikiran dan perasaan ke dalam tubuh

D A NCE: BODY 2 BODY

adalah perempuan dan perempuan, laki-laki dan laki-laki

perempuan dan laki-laki.

Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) is a non-profit organization established in 2007 to manage Padepokan Seni as a performing arts center that advocates the arts as a medium for inclusive dialogue and learning. Serving artists and the general public, Padepokan Seni cultivates learning processes through and about the arts by presenting works of artists, facilitating their professional development, and devising programs that increase community engagement with the arts.

Address:

Kembaran RT 04/RW 21 Tamantirto

Kec. Kasihan, Kab. Bantul

Yogyakarta – Indonesia

Tel/fax : 62 – 0274 – 376 394

E-mail : info@ybk.or.id

Website : www.ybk.or.id

Historis Kota Batang

ASAL USUL NAMA BATANG
Menurut kamus Kawi-Indonesia karangan Prof.Drs.Wojowasito, Batang berarti= 1. Plataran, 2. Tempat yang dipertinggi, 3. Dialahkan, 4. Kata bantu bilangan (footnote).

Dalam bahasa Indonesia (juga bahasa Melayu) berarti sungai, dalam kamus jawa- Indonesia karangan Prawiroatmojo berarti terka, tebak. Atas dasar arti kata tersebut diatas maka dalam hubungan alami yang ada dilokasi yang ada disekarang ini maka yang agak tepat adalah: plataran (platform) yang agak ketinggian dibandingkan dengan dataran disekitarnya maupun bila dilihat dari puncak pegunungan di sekitarnya juga bila dipandang dari laut jawa.

Menurut legenda yang sangat populer, Batang berasal dari kata= Ngembat- Watang yang berarti mengangkat batang kayu. Hal ini diambil dari peristiwa kepahlawanan Ki Ageng Bahurekso, yang dianggap dari cikal bakal Batang. Adapun riwayatnya diungkapkan sebagai berikut:

Konon pada waktu Mataram mempersiapkan daerah- daerah peratanian untuk mencukupi persediaan beras bagi para prajurit Mataram yang akan mengadakan penyerangan ke Batavia, Bahurekso mendapat tugas membuka hutan Roban untuk dijadikan daerah pesawahan. Hambatan dalam pelaksanaan tesebut ternyata cukup banyak. Para pekerja penebang hutan banyak yang sakit dan mati karena konon diganggu oleh jin, setan peri prayangan, atau siluman- siluman penjaga hutan Roban, yang dipimpin raja mereka Dadungawuk. Namun berkat kesaktian Bahurekso, raja siluman itu dapat dikalahkan dan berakhirlah gangguan-gangguan tersebut walaupun dengan syarat bahwa para siluman itu harus mendapatkan bagian dari hasil panen tersebut. Demikianlah hutan Roban sebelah barat ditebang seluruhnya. Tugas kini tinggal mengusahakan pengairan atas lahan yang telah dibuka itu.

Tetapi pada pelaksanaan sisa pekerjaan inipun tidak luput dri gangguan maupun halangan-halangan. Gangguan utama adalah dari raja siluman Uling yang bernama Kolo Dribikso. Bendungan yang telah selesai dibuat untuk menaikkan air sungai dari Lojahan yang sekarang bernama sungai Kramat itu selalu jebol karena dirusak oleh anak buah raja Uling. Mengetahui hal itu Bahurekso langsung turun tangan, Semua anak buah raja Uling yang bermarkas disebuah Kedung sungai itu diserangnya. Korban berjatuhan di pihak Uling, Merahnya semburan-semburan darah membuat air kedung itu menjadi merah kehitaman “ gowok . Jw “ , maka kedung tersebut dinamakan Kedung Sigowok. Raja Uling marah melihat anak buahnya binasa. Dengan pedang Swedang terhunus ia menyerang Bahureksa. Karena kesaktian pedang Swedang tersebut, Bahureksa dapat dikalahkan. Siasat segera dilakukan. Atas nasehat ayahandanya Ki Ageng Cempaluk. Bahureksa disuruh masuk kedalam Keputren kerajaan Uling, untuk merayu adik sang raja yang bernama Dribusowati seorang putri siluman yang cantik. Rayuan Bahureksa berhasil. Dribusawati mau mencurikan pedang pusaka milik kakaknya itu, dan diserahkan kepadanya. Dengan pedang Swedang ditangan, dengan mudah raja Uling di kalahkan, dengan demikian maka gangguan terhadap bendungan sudah tidak pernah terjadi lagi. Tetapi bukan berarti hambatan-hambatan sudah tidak ada lagi.

Tenyata air bendungan itu tidak selalu lancar alirannya. Kadang- kadang besar, kadang- kadang kecil, bahkan tidak mengalir sama sekali. Setelah diteliti ternyata ada batang kayu (watang) besar yang melintang menghalangi aliran air. Berpuluh puluh orang disuruh mengangkat memindah watang tersebut, tetapi sama sekali tidak berhasil. Akhirnya Bahurekso turun tangan sendiri. Setelah mengheningkan cipta, memusatkan kekuatan dan kesaktiannya, watang besar itu dapat dengan mudah diangkat dan dengan sekali embat patahlah watang itu. Demikianlah peristiwa ngembat watang itu terjadilah nama Batang dari kata ngem Bat wa Tang (Batang). Orang Batang sendiri sesuai dialeknya menyebut “ Mbatang. ”
Melihat uraian dari sumber lisan atau legenda tersebut, kita dapat memperkirakan sejak kapan ini terjadi.
Persiapan Mataram untuk menyerang Batavia adalah pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, tahun 1613 s/d 1628. Penyerangan pertama ke Batavia adalah pada tahun 1628, ambillah persiapan itu sedini- dininya, yaitu awal pemerintahan Sultan Agung, maka hal itu terjadi pada tahun 1613.

Betapa mudanya nama Batang ini terjadi dan dikenal. Majalah Karya Dharma Praja Mukti pernah memuat sesuatu tulisan kiriman Kusnin Asa, disitu disebutkan bahwa nama Batang dikenal pada jaman kerajaan Majapahit, sebagai suatu kota pelabuhan. Nama Batang berasal dari kata BATA-AN. Bata berarti batu, dan AN berarti satu atau pertama.

Menurut Bp. Suhadi BS, BA dalam naskah pengantar lambing daerah Batang menyebutkan, bahwa berdasarkan Sapta Parwa karya Mohamad Yamin dengan berita Tionghoa yang berhasil ia kutip lengkap dengan fragmen petanya, ia menyebutkan bahwa nama Batang telah dikenal sejak orang-orang Tionghoa banyak berguru agama Budha ke Sriwijaya. Batang ini dikenal dengan nama Batan sebagai kota pelabuhan sejaman dengan Pemaleng (Pemalang) dan Tema (Demak)

SEJARAH PEMERINTAHAN
Menurut sejarah, Batang telah memiliki dua kali periode pemerintahan Kabupaten. Periode I diawali zaman kebangkitan kerajaan Mataram Islam (II) sampai penjajahan asing, kira-kira dari awal abad 17 sampai dengan 31 Desember 1935. Sedang periode II, dimulai awal kebangkitan Orde Baru (8 April 1966) sampai sekarang, bahkan Batang dapat ditelusuri sejak pra-sejarah.

Sejak dihapuskan status Kabupaten (1 Januari 1936) sampai tanggal 8 April 1966, Batang tergabung dengan Kabupaten Pekalongan.

Tahun 1946, mulai ada gagasan untuk menuntut kembalinya status Kabupaten Batang. Ide pertama lahir dari Pak Mohari yang disalurkan melalui sidang KNI Daerah dibawah pimpinan H.Ridwan alm. Sidang bertempat di gedung bekas rumah Contrder Belanda (Komres Kepolisian 922).

Tahun 1952, terbentuk sebuah Panitia yang menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Batang. Panitia ini dinamakan Panitia Pengembalian Kabupaten Batang, yang bertugas menjalankan amanat masyarakat Batang.

Dalam kepanitiaan ini duduk dari kalangan badan legislatif serta pemuka masyarakat yang berpengaruh saat itu. Susunan panitianya terdiri atas RM Mandojo Dewono (Direktur SGB Batang) sebagai Ketua, R. Abutalkah dan R. Soedijono (anggota DPRDS Kabupaten Pekalongan) sebagai Wakil Ketua. Panitia juga dilengkapi dengan dua anggota yaitu R. Soenarjo (anggota DPRDS yang juga Kepala Desa Kauman) dan Rachmat (anggota DPRDS).

Tahun 1953, Panitia menyampaikan Surat Permohonan terbentuknya kembali status Kabupaten Batang lengkap satu berkas, yang langsung diterima oleh Presiden Soekarno pada saat mengadakan peninjauan daerah dan menuju ke Semarang dengan jawaban akan diperhatikan.

Tahun 1955, Panitia mengutus delegasi ke pemerintah pusat, yang terdiri atas RM Mandojo Dewono, R.Abutalkah, dan Sutarto (dari DPRDS).

Tahun 1957, dikirim dua delegasi lagi. Delegasi I, terdiri atas M. Anwar Nasution (wakil ketua DPRDS), R.Abutalkah, dan Rachmat (Ketua DPRD Peralihan). Sedangkan delegasi II dipercayakan kepada Rachmat (Kepala Daerah Kabupaten Pekalongan), R.Abutalkah, serta M.Anwar Nasution.

Tahun 1962, mengirimkan utusan sekali. Utusan tersebut dipercayakan kepada M. Soenarjo (anggota DPRD Kabupaten Pekalongan dan juga Wedana Batang) sebagai ketua, sebagai pelapor ditetapkan Soedibjo (anggota DPRD), serta dibantu oleh anggota yaitu H. Abdullah Maksoem dan R. Abutalkah.

Tahun 1964, dikirim empat delegasi. Delegasi I, ketuanya dipercayakan R. Abutalkah, sedang pelapor adalah Achmad Rochaby (anggota DPRD). Delegasi ini dilengkapi lima orang anggota DPRD Kabupaten Pekalongan, yaitu Rachmat, R. Moechjidi, Ratam Moehardjo, Soedibjo, dan M. Soenarjo.

Delegasi II, susunan keanggotaannya sama dengan Delegasi I tersebut, sebelum menyampaikan tuntutan rakyat Batang seperti pada delegasi-delegasi terdahulu, yaitu kepada Menteri Dalam Negeri di Jakarta diawali penyampaian tuntutan tersebut kepada Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah di Semarang.

Delegasi III, yang juga susunan keanggotaannya sama dengan Delegasi I dan II kembali mengambil langkah menyampaikan tuntutan rakyat Batang langsung kepada Mendagri. Sedang Delegasi IV mengalami perubahan susunan keanggotaan. Dalam delegasi ini sebagai ketua R. Abutalkah, sebagai wakil ketua Rachmat, sedangkan sebagai pelapor adalah Ratam Moehardjo, Ahmad Rochaby sebagai sekretaris I, R. Moechjidi sebagai sekretaris II serta dilengkapi anggota yaitu Soedibjo dan M. Soenarjo.

Tahun 1965, diutus delegasi terakhir. Sebagai ketua R. Abutalkah, wakil ketua Rachmat, sekretaris I Achmad Rochaby, sekretaris II R. Moechjidi, pelapor Ratam Moehardjo serta dilengkapi dua orang anggota yaitu M. Soenarjo dan Soedibjo. Delegasi terakhir atau kesepuluh itu, memperoleh kesempatan untuk menyaksikan sidang paripurna DPR GR dalam acara persetujuan dewan atas Rancangan Undang-undang tentang Pembentukan Pemerintah Kabupaten Batang menjadi Undang-undang.

Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Batang terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1965, yang dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 52, tanggal 14 Juni 1965 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri RI Nomor 20 Tahun 1965, tanggal 14 Juli 1965.

Tanggal 8 April 1966, bertepatan hari Jumat Kliwon, yaitu hari yang dianggap penuh berkah bagi masyarakat tradisional Batang, dengan mengambil tempat di bekas Kanjengan Batang lama (rumah dinas yang sekaligus kantor para Bupati Batang lama) dilaksanakan peresmian pembentukan Daerah Tingkat II Batang.

Upacara yang berlangsung khidmat dari jam 08.00 s/d 11.00 itu, ditandai antara lain dengan Pernyataan Pembentukan Kabupaten Batang oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah Brigjend (Tit) KKO-AL Mochtar, pelantikan R. Sadi Poerwopranoto sebagai Pejabat Bupati Kepala Daerah Batang, serah terima wewenang wilayah dari Bupati KDH Pekalongan kepada Pejabat Bupati KDH Batang, serta sambutan dari Gubernur Kepala Daerah Jawa Tengah.

TRADISI KIRAB PUSAKA ABIRAWA

Kirab pusaka merupakan suatu kegiatan rutin setiap tahunnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang, juga merupakan perayaan menyambut hari jadi Pemkab. Batang. Penyelenggaraan Kirab Pusaka ini baru dimulai sejak tahun 2003 dengan tujuan untuk :

1.

Melestarikan budaya leluhur sebagai agenda kepariwisataan di Kabupaten Batang.
2.

Sebagai bukti bahwa Kabupaten Batang telah ada sejak lama, sekitar 500 tahun silam, namun pada tahun 1936 s/d 7 April 1966 bergabung dengan Kabupaten Pekalongan;
3.

Sebagai prosesi ritual tolak balak.

URUTAN NAMA PARA BUPATI DAN WAKIL BUPATI BATANG :

No.

Nama Bupati/Wakil Bupati

Masa Jabatan

1

R. Sadi Poerwopranoto

8 April 1966 s/d 31 Mei 1967

2

R. Harjono Prodjodirdjo

31 Mei 1967 s/d 10 Oktober 1972

3

Drs. Soejitno

10 November 1972 s/d 21 Maret 1979

4

Drs. Soekirdjo

21 Maret 1979 s/d 1 Januari 1988

5

Drs. Soehoed

26 Juli 1988 s/d 26 Juli 1993

6

Moeslich Effendi, SH

26 Juli 1993 – 26 Juli 1998

7

Djoko Poernomo, SH, MM

22 Oktober 1998 – 7 Agustus 2001

8

Bambang Bintoro, SE / Drs Achfa Machfudz

11 Februari 2002 – 11 Februari 2007

9
Bambang Bintoro, SE / Drs Achfa Machfudz 11 Februari 2007 – sekarang

URUTAN NAMA PARA KETUA DPRD KABUPATEN BATANG :

No.

Nama Ketua DPRD

Masa Jabatan

1

H. Abd. Maksoem

Tahun 1967 – 1972

2

Letkol Moh. Hasjim

Tahun 1972 – 1982

3

Letkol Soewardjo

Tahun 1982 – 1987

4

Soedarno

Tahun 1987 – 1992

5

H. Muslim Haryanto

Tahun 1992 – 1997

6

Kusnadi

Tahun 1997 – 1999

7

HM. Azies

Tahun 1999 – 2004

8

Purwanto

Tahun 2004 – sekarang

Sumber :
1. Arsip Daerah Kabupaten Batang.
2. Buku Sejarah Batang, Suatu Studi Pendahuluan, Tim Penyusun Sejarah
Kabupaten Daerah Tingkat II Batang, Tahun 1991.
3. Buku Sejarah Perjuangan Pembentukan Kabupaten Batang, terbitan
Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Batang, tahun 1991

Budaya Cetak halaman ini
Ditulis oleh Administrator

Friday, 15 September 2006

Pengaruh budaya Kerajaan Mataram dan Agama Islam begitu kuat terhadap perkembangan kebudayaan masyarakat Kabupaten Pemalang. Asimilasi dua budaya itu melahirkan budaya Pemalang yang tersimpan secara turun temurun.
Hal ini dapat dilihat pada sikap masyarakat Pemalang melalui karya-karya budaya mereka dalam bentuk benda-benda purbakala, upacara-upacara adat, tari-tarian dan kesenian, kerajinan tangan dan sebagainya.

Baritan

Baritan atau sedekah laut adalah prosesi melarung Jolen ke tengah laut yang dilaksanakan para nelayan sebagai upacara rasa syukur atas hasil usaha menangkap ikan di laut. Sedekah laut diselenggarakan tiap tahun sekali pada Maulud, setiap Selasa atau Jumat Kliwon.
Sebelum upacara pelarungan, diadakan tirakatan bersama yang dihadiri para nelayan, tokoh masyarakat setempat dan para pejabat terkait dengan mengambil lokasi di Tempat Pelelangan Ikan. Pembacaan doa dan tahlil menyertai upacara ini dengan maksud agar pelaksanaan upacara ini dapat berjalan lancar, selamat dan tidak menyimpang dari aturan agama.

Krangkeng

Kesenian tradisional ini dikenal masyarakat Pemalang sejak tiga abad silam. Berawal dari peristiwa penyerbuan Batavia oleh laskar Mataram. Pemalang yang saat itu termasuk dalam wilayah Mataram membantu laskar Sultan Agung dengan mengirim prajurit-prajurit terbaiknya. Cara menghasilkan prajurit tangguh saat itu ialah melatih para pemuda dengan ilmu kanuragan dan olah keprajuritan. Caranya setiap latihan olah kanuragan selalu diiringi musik atau tetabuhan.
Kegiatan latihan olah kanuragan yang diiringi musik kini masih terus berlangsung, bahkan kian meluas. Materi yang ditampilkan kian berkembang dan diperkaya berbagai jenis ketangkasan lainnya seperti atraksi kekebalan tubuh dan ketrampilan akrobatik. Olah kanuragan kini telah beralih fungsi menjadi sebuah kegiatan kesenian dan tontonan yang menarik. Inilah cikal bakal lahirnya kesenian krangkeng.

Sintren

Sintren merupakan kesenian rakyat yang cukup populer di wilayah Karesidenan Pekalongan terutama di kalangan masyarakat pantura.
Sintren konon berasal dari legenda Sularsih-Sulandono. Sulandono adalah putera ari pasangan suami-istri Joko Bahu dan Ratnasari yang menurut kisah adalah pendiri Kota Batang, Pekalongan dan wilayah sekitarnya. Sintren menggambarkan perjalanan hidup dan kesucian seorang gadis yang diperankan seorang gadis belia yang masih suci, belum akil-balik dan tidak pernah terjamah tangan lelaki.
Pertunjukan sintren diawali tembang yang menarik perhatian para penonton yakni “Kukus Gunung”. Berikutnya gadis calon sintren yang mengenakan pakaian biasa dimasukkan ke dalam kurungan dalam keadaan tangan terikat. Setelah si gadis berada dalam kurungan, kemenyan pun dibakar sementara para pelantun lagu mengalunkan tembang “Yu Sintren” yang bertujuan memanggil kekuatan dari luar. Kekuatan inilah yang nantinya mengganti busana calon sintren.
Selanjutnya akan tampak sesosok bidadari yang mengenakan pakaian kebesaran lengkap dengan kacamata hitam, berdiri anggun lalu berienggang-lenggok mengikuti irama gamelan yang dimainkan para penabuh.
Pada zaman dulu, selain sebagai sarana hiburan dan ajang komunikasi muda-mudi untuk cari jodoh, sintren juga digunakan sebagai mediasi untuk meminta turun hujan. Sekarang, sintren pun dipentaskan untuk memeriahkan hari-hari besar nasional, acara hajatan atau pun untuk menyambut tamu resmi.

Jaran Kepang

Jaran kepang atau Kuda Lumping adalah jenis kesenian tradisional yang umumnya dikenal di masyarakat Jawa Tengah. Kesenian ini merupakan jenis permainan yang menyertakan unsur magis karena pada adegan tertentu pemainnya memainkan atraksi yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa seperti adegan makan pecahan kaca. Dari sejumlah kesenian Jaran Kepang yang ada di Jawa Tengah, Pemalang mungkin memiliki beberapa kelebihan berupa inovasi seperti adanya adegan cukup unik dimana dua atau tiga orang pemain dijadikan manusia setengah robot yang bisa duduk atau berdiri mematung berjam-jam lamanya.
Kesenian Jaran Kepang biasanya dipentaskan pada acara hajatan, upacara hari besar nasional atau pun menyambut kunjungan tamu resmi.

Kuntulan

Kesenian ini mulai dikenal masyarakat Pemalang pada sekitar awal abad 20 yaitu pada saat di tanah air banyak muncul pergerakan kebangsaan. Tokoh-tokoh masyarakat Pemalang saat itu tak mau ketinggalan ikut dalam kancah perjuangan nasional. Dibentuklah perkumpulan bela diri, khususnya pencak silat. Kegiatan bela diri ini ketika itu selalu diiringi rebana dan pukulan bedug serta dikumandangkan pula doa-doa salawat Nabi sehingga terkesan sebagai kegiatan kesenian dan keagamaan.

Setelah kemerdekaan kegiatan ini yang kemudian di -kenalkan dengan nama kuntulan tetap berlangsung dan berubah dari alat perjuangan menjadi sarana hiburan. Kesenian ini biasanya dipentaskan para acara peringatan hari besar nasional, hajatan atau pun menyambut tamu resmi. Kesenian kuntulan tampak menarik karena memadukan jurus-jurus bela diri yang nampak artistik, demonstrasi akrobatik dan keindahan musik rebana dan bedug.

PROGRAM GEDUNG KESENIAN JAKARTA

Kamis, 25 Juni 2009, pukul 20.00 wib

Kolaborasi Musik, Tari dan Puisi

Kerjasama Gedung Kesenian Jakarta & Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jawa Barat

“Pesona Parahyangan”

Penanggung Jawab: Drs. Dedi Setiadi

Konsultan Pertunjukan: Yayat HK. S.Sen., M.Sen.

Pesona Parahyangan merupakan gambaran keindahan alam parahyangan yang memberikan nuansa estetik dari sosiologis dan geografik. Cinta pada alam adalah bagian dari sebuah ritual yang tidak terpisahkan. Suasana sukacita yang diekspresikan oleh gerak tari, musik dan puisi merupakan ragam ekspresi yang diungkapkan dengan makna pencerahan hati. Semuanya berada dalam lanskap keharmonisan yang tidak dapat dipisahkan. Pertunjukan ini menawarkan ekspresi pertemuan idiom antara traditional dan modernisasi sedemikian rupa sehingga menjadi perpaduan teknis yang benar-benar pas untuk mewakili jaman kini.

Admission: Rp 50.000 dan Rp 40.000 (balcony)

Informasi: Gedung Kesenian Jakarta

3808283/3441892/ Sarah 081319773484

Collaboration of Music, Dance and Poetry

Cooperation between Gedung Kesenian Jakarta and Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jawa Barat

Pesona Parahyangan is a nature beauty figure of parahyangan that gives esthetic sociologically and geographically. Love to nature is a part from ritual that cannot be separated. Glorious environment expressed by the movement of dance music and poetry in expression variant exposed with the meaning of bright heart. All will be in one inseparable harmonious landscape. This performance offers an idiom expression meeting between traditional and modernism in a way to become perfect technical combination as representation of present time.

Salam

Lia Nugrahati

Marketing Manager

GEDUNG KESENIAN JAKARTA

Percikan Api Renaisans dari Chin

”BIARKAN China terlelap.Sebab, jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia lagi,” kata Napoleon Bonaparte. Pernyataan Napoleon ini dapat kita tafsir paling tidak menjadi dua pengertian.

Pertama, ada ketakutan yang mendalam dari bangsa Eropa terhadap eksistensi China.Karena, China dipandang sebagai bangsa yang memiliki potensi besar untuk dapat bersaing dan bisa jadi dapat mengungguli kejayaan Eropa sekarang ini. Kedua, pernyataan ini seakan memberi penanda bahwa China pernah menjadi bangsa yang besar dan digdaya. Menurut para sejarawan, sejarah kebudayaan China adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia.

Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah China telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Penemuan ini cukup membuktikan betapa bangsa China telah mengalami proses kehidupan yang teramat panjang di alam dunia ini. Sebagai kebudayaan tertua di dunia, China memiliki perbedaan yang unik jika dibandingkan dengan kebudayaan dan peradaban dunia lain seperti Mesir dan Babilonia. Hal ini disebabkan sejarah kebudayaan China tidak pernah terputus selama hampir 5.000 tahun lamanya.

Pergantian pemerintahan dari dinasti ke dinasti tidak mengakibatkan kebudayaan dan peradaban China mengalami kehancuran dan pergeseran yang teramat besar. Bahkan, hingga kini, peradaban bangsa China masih terus eksis dan bertahan, bahkan menjadi perhatian banyak orang, baik dari kalangan ilmuan, pengamat, arkeolog, sosiolog maupun kalangan lain. Menurut keterangan, orang seperti Ibnu Batutah dan Marco Polo di masanya sangat menaruh minat yang mendalam terhadap kebudayaan China.

Melalui jasa kedua orang inilah, konon, dunia mengetahui kebesaran dan kemegahan kebudayaan bangsa China dalam segala bidang. Nabi Muhammad pun dalam satu riwayatnya pernah menyeru umat manusia untuk belajar ke negeri China. Pada titik inilah posisi Gavin Menzies dalam buku 1434 ini menjadi penting. Menzies memberi kesimpulan yang cukup mencengangkan bahwa kemajuan materi peradaban dunia saat ini, terutama dunia Eropa, sesungguhnya mendapat sumbangsih yang cukup besar dari hasil teknologi peradaban China.

Kesimpulan Menzies ini sebetulnya ingin meluruskan pandangan yang mengatakan bahwa renaisans dilukiskan sebagai masa kelahiran kembali peradaban Eropa Klasik Yunani dan Romawi. Bagi Menzies justru percikan penularan pengetahuan intelektual China merupakan bukti yang tak dapat dimungkiri sebagai percikan api yang mengobarkan renaisans di Eropa hingga kini. Dalam buku setebal 430 halaman ini, Menzies memberikan banyak bukti tentang pengaruh China dalam kebangkitan kebudayaan Eropa sekarang ini.

Di antara temuan Menzies yang harus ketahui adalah menyangkut Cristopher Colombus. Bagi Menzies, Colombus bukanlah orang yang pertama kali menemukan Benua Amerika. Ada orang lain yang pernah menemukan benua itu sebelum Colombus menemukanya. Logikanya bagaimana mungkin seorang Colombus dapat menemukan Benua Amerika pertama kali pada 1492, sementara ia telah memiliki peta kawasan Amerika 18 tahun sebelum ia melakukan perjalanan dan menemukan Benua Amerika? Begitu juga dengan kasus Magellan, sang penjelajah dari Portugis.

Selama ini kita dipaksa meyakini bahwa Magellan adalah orang yang pertama kali menemukan Samudra Pasifik. Padahal, menurut Menzies, Martin Waldseemuller telah menerbitkan peta kawasan Amerika dan Samudra Pasifik pada 1507, 12 tahun sebelum Magellan melakukan pelayarannya. Lalu, pada 1515, empat tahun sebelum Magellan berlayar, Johannes Shoner menerbitkan sebuah peta yang memperlihatkan Selat Pasifik yang disebut “ditemukan” Magellan itu.

Namun, kedua pembuat peta ini, kata Menzies, bukan satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan misterius tentang daratan yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh mereka berdua. Ada orang lain—bangsa lain—yang mendahului Magellan dan kedua pembuat peta itu mengetahui benua Pasifik. Buku yang sarat dengan teka-teki ini juga membeberkan kepada kita bahwa Paolo Toscanelli pernah mengirimkan peta benua Amerika kepada Colombus dan Raja Portugal— dari Raja Portugal inilah Magellan mendapatkan peta benua Pasifik.

Sementara Toscanelli sendiri pernah bertemu Duta Besar China yang singgah ke Florensia, yang secara bersamaan pula duta besar ini bertemu Paus Eugenius IV. Pada saat itulah delegasi China memberikan segudang pengetahuan kepada Toscanelli dalam berbagai bidang ilmu: seni, geografi (termasuk peta-peta dunia yang kemudian diteruskan kepada Colombus dan Magellan), astronomi, matematika, percetakan, arsitektur, pembuatan baja, persenjataan militer,dan lainnya.

Menzies juga menginformasikan kepada kita bahwa Leonardo da Vinci bukanlah seorang yang genius dan pintar sebagaimana kita yakini selama ini. Padahal, menurut Menzies, Leonardo tak lebih sebagai seorang juru gambar ketimbang penemu. Menzies meyakini, Leonardo banyak belajar dari seorang perancang dan insinyur andal, yaitu Francesco di Giorgio. Darinya Leonardo meniru cara membuat parasut, helikopter, kanal, saluran air, dan lainnya.

Untuk menguatkan kesimpulan Menzies di atas, Dr Ladislao Reti, ahli tentang Leonardo dalam Helicopters and Whirlgigs, menyimpulkan bahwa sebuah model helikopter dalam bentuk mainan baling-baling anak-anak muncul di Italia sekitar 1400 dari China dan memberi dasar teoretis bagi proyek helikopter Leonardo yang terkenal itu. Menzies juga memberi kesimpulan bahwa sumber pengetahuan yang dimiliki di Georgio tentang gambar-gambar mesin sepenuhnya diambil dari buku Nung Shu yang diterbitkan pada 1313 oleh bangsa China.

Buku ini sempat menjadi sumber inspirasi bagi banyak kalangan cendekia. Buku 1434 ini sangat penting dibaca karena memuat informasi yang baru, yang selama ini belum terpikirkan. Kita hanya meyakini bahwa renaisans pertama kali dikobarkan di daratan Eropa.

* Mohamad Asrori Mulky, Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

____________________________

DATA BUKU
Judul : 1434: Saat Armada China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans
Penulis : Gavin Menzies
Penerjemah : Kunti Saptoworini
Editor : Indi Aunullah
Genre : Sejarah
Cetakan : I, April 2009
Ukuran : 15 x 23 cm (plus flap 8 cm)
Tebal : 452 halaman
ISBN : 978-979-3064-74-1
Harga : Rp. 89.000,-

==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id

Laga Lagu :

Hasta Siempre Untuk Selamanya

Oleh : A.Kohar Ibrahim

musim semi

bersimbah cahya pagi

ku simak almanak

ah dikau ini

rupanya

juga kaum juni

seperti bung karno

seperti dewi anggraini

hanya saja dikau lah

penggenggam senjata pena

sekalian juga senjata api

terjun di kancah juang

nyala api revolusi

gagah berani

menang

kalah

mati

namun abadi

nyala

juang membela keadilan

nyala

juang melawan penindasan

nyala

juang demi kebebas-merdekaan

umat manusia sedunia

“hasta siempre”

senantiasa

menggema

gugah gugat

bangkitkan semangat

seperti bung karno

seperti lumumba

seperti mandela

seperti dikau

comandante:

che guevara

nyala juang

hasta siempre

dian

nan tak kunjung padam

melawan penindasan

demi keadilan

kemerdekaan

melawan pembodohan

melawan lapar dan dahaga

berjuta bermilyar manusia

miskin papa

sedunia

meski

belum lagi tamat kiamat

berkas sejarah berkelanjutan

diterangi nyala juang

hasta siempre

merdu bak irama lagu

carlos puebla

nathalie cardone

ahmet koç

atau

cherasca

nyala juang

hasta siempre

« con soles de primavera »

bersimbah cahya mentari musim musim semi

jatuh bangun hadapi segala ujian

sepanjang jalan perjuangan

jaga asa senantiasa

di blitar, bandung atau ujung gunung

di gaza, kinsasa, santa clara atau la higuera

semangat juang selayaknya dijaga

hasta siempre

« para plantar la bandera »

demi tegak-kibar bendera

kebebas-merdekaan

keadilan-kemakmuran

keamanan dan kedamaian

hidup kehidupan manusia

bangsa manusiawi

di bumi

*

(Juni 2009)

1 4

Resensi Buku 1434 (Gavin Menzies)

Renaissance dalam bahasa Prancis berarti terlahir kembali. Dimulai sekitar abad ke-13 di benua Eropa. Revolusi budaya tersebut mempengaruhi dan bahkan meletakkan dasar perputaran kehidupan masyarakat dunia hingga kini. Akademisi percaya bahwa gerakan renaisans dimulai di Florensia, Italia.

Gerakan tersebut mencakup kebangkitan kembali pengetahuan-pengetahuan alam, sastra, dan seni. Masa pencerahan kembali ini kemudian melahirkan ilmuwan dan seniman ternama seperti Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei, Toscanelli, atau Alberti. Kontribusi teori, pemikiran, dan penemuan mereka yang kemudian mengubah wajah Eropa yang sebelumnya diselimuti kegelapan. Banyak literatur mengarahkan bahwa gerakan renaisans terjadi karena ditemukannya kembali nilai-nilai dan pemikiran Yunani dan Romawi klasik.

Namun, seorang veteran Angkatan Laut Inggris, Gavin Menzies, justru mengungkapkan bahwa percikan api renaisans disebabkan oleh kedatangan bangsa Cina ke benua Eropa pada sekitar 1434. Dalam bukunya yang berjudul 1434 (edisi bahasa Indonesia diterbitkan Pustaka Alvabet, 2008), dia menjelaskan pelayaran besar-besaran yang dipimpin Laksamana Cheng Ho memberikan kontribusi besar dalam sebuah revolusi budaya di Eropa itu. Banyak buku dan alat mekanik yang ditinggalkan bangsa Cina di Eropa.

Cina berbagi informasi dengan Eropa tentang astronomi, geometri, matematika, pemetaan, mesin-mesin pendukung manusia, serta mesin-mesin perang. Peta yang dibuat bangsa Cina juga disebutkan merupakan sumber penuntun bagi Columbus dan para kapten kapal lain dari Eropa untuk menemukan Amerika.

Dalam analisis yang dibentuk oleh Gavin melalui bukunya, yang juga didukung oleh beberapa penelitian yang lain, pada 1430 Kasiar Muda Cina memerintahkan Cheng Ho dan laksamana yang lain berlayar ke daratan Eropa. Tujuannya membawa berbagai hadiah dari negeri Cina dan memberitahaukan pemimpin di dataran tersebut untuk mengakui kekuasaan kaisar Cina.

Selama satu tahun Cina mempersiapkan pelayaran besar-besaran itu. Kapal-kapal berukuran raksasa sampai yang terkecil dibangun dengan teliti dan seksama. Kayau-kayu kokoh terpilih dipakai sebagai tiang utama kapal agar tahan terhadap ganasnya lautan dan melindungi para duta besar bangsa Cina ketika berlayar. Tidak ada jumlah pasti armada yang dipimpin oleh Cheng Ho, namun angkanya bisa mencapai ratusan. Kapal-kapal itu kemudian diisi dengan sutra, porselin, dan berbagai kekayaan lainnya dari bangsa Cina.

Cheng Ho terpilih menjadi laksamana utama yang memimpin ratusan kapal tersebut karena kemampuannya yang luar biasa di lautan. Laksamana Muslim tersebut sebelumnya pada 1421 sudah melakukan pelayaran dan menemukan benua Amerika sebelum bangsa Eropa (tertulis secara rinci pada buku pertama Gavin Menzies, 1421). Saat itu ilmu ukur Cina sudah sangat maju, bahkan mereka sudah mampu menciptakan peta lengkap yang menggambarkan seluruh dunia.

Termasuk di dalam kapal-kapal tersebut, buku-buku yang menjelaskan tentang geometri, ilmu ukur, dan desain-desain alat-alat mekanis. Ketika armada Cina tiba di Florensia dan disambut oleh Paus Eugenius IV pada 1434, pertukaran budaya pun terjadi. Ilmuwan-ilmuwan dari kedua bangsa tersebut saling bertukar informasi. Beberapa di antaranya adalah Tuscanelli dan Alberti. Karya dari nama yang disebutkan terakhir itulah yang kemudian memengaruhi pola pemikiran dan penciptaan Leonardo Da Vinci.

Meski Alberti tertutup terhadap sumber ilmu pengetahuan yang didapatkannya, tetapi sejarah (seperti yang dituliskan Gavin) mengatakan saat duta besar Cina datang pada 1434, Alberti saat itu adalah sekretaris Paus. Besar kemungkinan pertukaran informasi telah terjadi saat itu.

Lebih lanjut, Gavin mencantumkan berbagai bukti keterkaitan teknologi bangsa Cina yang dibawa pada 1434 itu terhadap munculnya percikan renaisans lewat alat ciptaan Leonardo Da Vinci. Roda-roda gigi yang digambarkan oleh pelukis Monalisa itu digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin, ternyata sudah digunakan oleh bangsa Cina sejak 200 SM.

Da Vinci juga banyak menggambar desain yang menampilkan mesin terbang berawak, terutama helikopter dan parasut. Padahal di negeri Cina, layang-layang ataupun parasut serta teori awal helikopter sudah ditemukan ratusan bahkan ribuan tahun sebelum Leonardo menggambarkannya. Salah satu keterkaitan bentuk desain Leonardo dengan yang sudah dilakukan bangsa Cina adalah melalui karya dan pemahaman Alberti, seseorang yang pernah bertemu duta besar China di tahun 1434.

Melalui buku setebal 430 halaman ini, Gavin tidak hanya menjelaskan analisis dari pengalamannya berkeliling dunia. Dia juga menambahkan berbagai teori dari ilmuwan lain yang mampu menunjukkan keterkaitan renaisans dengan kedatangan bangsa Cina di Eropa. Sebuah pemikiran komprehensif yang kemudian diperkuat dengan teori yang sudah ada.

Meskipun begitu, buku ini bukannya hadir tanpa kekurangan. Pada bagian awal hingga masuk ke bagian pertengahan, Gavin justru lebih banyak bercerita tentang sistem navigasi dan perkapalan. Seakan setengah buku ini juga dipakai untuk memperkuat analisisnya tentang penemuan benua Amerika oleh bangsa Cina pada buku pertamanya. Hal ini jelas sekali terlihat ketika Gavin banyak sekali mengungkapkan pedebatan-perdebatan tentang peta dunia yang dibuat oleh bangsa Cina dan peta yang dibuat oleh bangsa Eropa. Dengan panjang lebar dia menjelaskan permasalahan peta tersebut membuatnya lupa tentang inti topik buku yang dia tulis.

Selain itu, cara pemaparannya tentang peta dunia dan konsep navigasi yang terlalu teknis justru membuat pembaca terlalu lama untuk sampai pada masalah utama tentang renaisans. Bentuk pemaparan ini memang bisa dimaklumi karena latar belakang karier Gavin yang seorang Angkatan Laut.

________________________________

DATA BUKU
Judul : 1434: Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans
Penulis : Gavin Menzies
Penerjemah : Kunti Saptoworini
Editor : Indi Aunullah
Genre : Sejarah
Cetakan : I, April 2009
Ukuran : 15 x 23 cm (plus flap 8 cm)
Tebal : 452 halaman
ISBN : 978-979-3064-74-1
Harga : Rp. 89.000,-

==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id

Diskusi Biennale Jatim III 2010
Minggu, 28 Juni 2009
Pkl. 10.00 s/d 14.00 WIB
Tempat :
Dewan Kesenian Kota Malang
Jl. Majapahit No.3, Malang
Pembicara :
1. Djuli Djatiprambudi
2. Henry Nurcahyo
Moderator:
Syarifuddin
Penyelenggara :
Dewan Kesenian Jawa Timur bekerja sama dengan
Dewan Kesenian Kota Malang
Informasi :
1.Dewan Kesenian Jawa Timur
Jl.Wisata Menanggal Surabaya 60234
Telp/fax 031-8554304
Email:dk_jatim@yahoo.com
www.dewankesenianjatim.com
www.brangwetan.com
Kontak:
Nonot Sukrasomono, Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jatim
031-71775987, 08123571968, 081357088866
2.Dewan Kesenian Kota Malang
Jl.Majapahit 3 Malang
Kontak:
Anthony Wibowo 081 7388709


next »

Kategori Info >>